Article
Aug 11

Aku dan Merry Riana by Shania Triatama

Posted at 11.11 AM | No Comments | POST A COMMENT

Aku selalu yakin bahwa Tuhan akan memberikan sesuatu pekerjaan yang besar untukku. Sekarang Dia sedang menuntunku agar siap dan pantas menerimanya. Inilah yang ada di pikiranku ketika membaca tweet Merry Riana mengenai Merry Riana Campus Ambassador. Mungkin ini adalah peluang yang Tuhan berikan bagiku untuk belajar.

 

Sebelumnya,Aku mengenal Kak Merry Riana dari buku “Mimpi Sejuta dollar” yang dibeli oleh adikku. Kemudian karena Aku suka motivasi dari Kak Merry Riana maka kemudian Aku follow twitternya.

 

Aku ditantang oleh dosen pembimbingku untuk membuat skripsi tentang fasilitas lansia yang dibiayai full dari hibah pemerintah yang kebetulan didapatkan oleh kampusku. Akan tetapi, Aku harus bersaing membuat proposal yang pantas untuk dibiayai. Deadline yang diberikan oleh dosen dalam membuat proposal adalah 1 minggu, padahal untuk membuat proposal skripsi pada umumnya mahasiswa membutuhkan waktu minimal sebulan. Tergiur dengan proyek yang mendapatkan biaya ini maka Aku mencoba membuatnya dengan tidak tidur berhari-hari.

 

Atas usaha tersebut, proposalku berhasil disetujui dan tidak lama kemudian Aku mengikuti ujian proposal. Aku adalah orang pertama di angkatanku yang pada semester 4 nya telah selesai ujian proposal skripsi. Bahkan Aku lebih cepat dari mahasiswa semester 6. Perjuangan yang sebenarnya baru dimulai.

 

Penguji berpendapat untuk dana sebesar itu, responden yang Aku gunakan terlalu sedikit. Penelitian yang Aku gunakan adalah sistem pengisian kuesioner dan wawancara dalam mengumpulkan data. Akhirnya responden ditambah menjadi 300 orang dari 3 universitas berbeda di Jakarta, 3 kali lipat dari sebelumnya. Respondenku tidak hanya mahasiswa tetapi dosen dengan syarat berumur 35-40 tahun dengan pendidikan S2-S3. Ini kriteria yang cukup sulit, biasanya dosen muda baru berpendidikan S1 sedangkan dosen S3 sudah melebihi umur 40 sedangkan dosen fakultas kedokteran yang notabene adalah dokter sangatlah sibuk.

 

Aku tidak memiliki kendaraan pribadi, sehari-hari Aku harus pergi ke kampus menggunakan angkutan umum. Aku berjuang bolak-balik kampus sendirian dengan menggunakan berbagai angkutan umum dari ojek, angkot merah, bus TransJakarta, metro mini dan bajaj. Dari hasil pengalamanku, mahasiswalah yang lebih mudah membantu mengisi kuesionerku. Tetapi untuk kuesinoer dosen cukuplah sulit di tambah lagi Aku juga butuh mewawancarai mereka.

 

Aku datangi dan jelaskan kepada mereka satu persatu maksud kedatanganku dan meminta mereka mengisi kuesioner . Sering kali Aku ditolak dan mendapatkan perlakuan yang tidak enak meskipun Aku sudah berusaha sopan. Beberapakali aku ditolak dosen yang bukan hanya menolak mengisi kuesioner tetapi mengkritik habis-habisan kuesionerku dan mempermalukanku di depan dosen lain. Aku lelah, down, malu dan hampir putus asa. Kemudian tidak sengaja Aku baca twitter Merry Riana Bagaikan sebuah batangan emas yang dibungkus sehelai kertas koran, begitulah biasanya sebuah kesuksesan dibungkus sebuah kegagalan”. Motivasi inilah yang membuatku bangkit. Pada saat itu, Aku merasa Aku harus berhasil! Aku harus berani berjuang menyelesaikan ini semua.

 

Sekarang Aku telah menyelesaikan pengumpulan data untuk skripsiku dan bersyukur kepada Tuhan telah diberikan tantangan seperti ini dalam hidupku. Cerita ini ternyata mampu memotivasi teman-temanku untuk segera memulai skripsi mereka dengan semangat. Aku sedang menanti tantangan lain yang akan menjadikan Aku lebih kuat lagi. Lebih matang dan pantas untuk kesuksesan masa depan.


You may also like :




  • About Merry Riana

Post a comment

Post a comment to Aku dan Merry Riana by Shania Triatama

To reply to this message, enter your reply in the box labeled "Message", hit "Post Message."

TV
Aku & Merry Riana – by Andriani
Radio
Master TMRS - 2015 - side bar 300x340px
News & Article