Article
Dec 30

Aku dan Merry Riana by Vienna Chandra

Posted at 12.01 PM | No Comments | POST A COMMENT

Aku dan Merry Riana

 

Saya Vienna Chandra, mahasiswi S2 (full scholarship) perguruan tinggi swasta London School of Public Relations. Saya pertama mengenal kak Merry Riana (MR) dari brosur-brosur atau reklame-reklame besar mengenai informasi seminar motivasinya. Jujur, saya termasuk orang yang kurang tertarik dengan motivator, mungkin karena saya belum merasakan ‘hubungan keterikatan’ antara saya dengan motivator tersebut. Contohnya: saya termasuk orang yang lumayan aktif dalam kegiatan di vihara, kebetulan divihara saya ada seorang motivator ternama di Indonesia yang juga menjadi umat, yaitu bapak Andri Wongso. Saya telah berkali-kali diajak untuk ikut seminar beliau dan selalu saya tolak, padahal seminar itu gratis. Akhirnya pada suatu hari saya menyempatkan diri untuk mengikuti seminar pak Andri karena merasa tidak enak dengan teman yang telah menawarkan saya untuk ikut. Setelah mengikuti seminar itu, memang semangat saya terbakar dan mengebu-gebu untuk ingin sukses, tetapi selang beberapa jam setelah seminar itu usai, saya kembali menjadi Vienna yang biasa.

 

Saya pun merasakan hal yang sama pada pertama kali melihat kak MR, saya hanya menganggap motivator hanyalah orang yang pintar ngomong dan ‘berjualan teori’. Walaupun saya telah belajar bahwa semangat sukses yang diutarakan oleh Pak Andri merupakan hasil dari kerja keras beliau selama ini, saya tetap merasa tidak ada keteriakatan antara saya dan dirinya. Beliau berjuang mati-matian pada jaman beliau yang saya anggap berbeda dengan jaman saya sekarang. Kembali kepada kak MR, karena penasaran saya pun mulai melakukan pencarian cepat diinternet dan berujung pada memfollow twitter kak MR.

 

Yang saya lakukan hanyalah memantau kultwit motivasi yang diberikan kak MR. Itu saja. Suatu hari, saya memberanikan diri untuk mengirimkan sebuah ‘direct message’. Dipikiran saya adalah orang seperti MR yang sudah sukses, tidak mungkin punya waktu untuk membalas pertanyaan saya, tetapi pertanyaan saya terjawab. Pada saat itu kak MR memberikan saran kepada saya yang tengah putus asa karena mengalami penolakan terus menerus saat melamar pekerjaan. Yang dikatakan kak MR hanyalah terus kirimkan CV, dan jangan lupa untuk membeli buku Mimpi Sejuta Dolar. Karena pikiran negatif saya terhadap para motivator, saya sama sekali tidak ada minat untuk membeli buku itu. Tetapi karena rasa penasaran, akhirnya saya tertarik untuk mengenal MR lebih jauh melalui bukunya.

 

Sebuah pengalaman luar biasa telah saya dapatkan dari membaca buku kak MR, baru kali ini saya merasakan ‘keterikatan nasib’ dengan seorang motivator. Hal ini dalam arti : MR hampir sama seperti saya, berjuang pada era 21 dan bukan seperti pak Andri yang berjuang pada era 18/19an. Saya melihat diri saya pada sosok MR, saya datang dari kalangan yang bisa dibilang berkecukupan dari sebuah kota kecil di Sumatera Selatan. Orang tua saya bertekad menyekolahkan saya hingga jenjang pendidikan setinggi-tingginya (karena keterbatasan uang, mereka terpaksa hanya sampai SMA). Saya memilih UPH sebagai kampus saya, dan pada saat awal masuk kuliah, saya juga merasakan hal yang sama bahwa saya tidak bisa terus menerus bersenang-senang menghabiskan uang. Walaupun papa sudah bersedia mengirimkan uang setiap saya membutuhkan dan selalu mengingatkan saya untuk ‘jangan terlalu memikirkan keadaannya’.

 

Ongkos hidup di UPH bisa dibilang cukup tinggi bagi pendatang dari kota kecil seperti saya. 1 kali makan dikantin UPH bisa menghabiskan Rp 20.000 – Rp30.000. Itu baru satu kali makan, sedangkan saya butuh makan 3x (belum termasuk cemilan), karena itu saya mencoba untuk mencari tempat makan yang jauh lebih murah, yaitu kantin pegawai mal Lippo. Saya tahu jika orang tua saya tahu saya makan disana, mereka pasti akan sangat sedih dan terpukul. Beberapa kali papa berkata bahwa dia masih sanggup untuk membiayai saya, jadi saya tidak perlu sampai begitu merananya. Tapi bagi saya, yang saya makan, dan sebagian uang bisa ditabung atau digunakan untuk keperluan lain.

 

Tetapi perbedaan saya dengan kak MR adalah yang saya tahu hanya teori, ketika dihadapkan pada praktik, saya menyadari bahwa ada ketakutan besar dalam diri saya saat membayangkan harus keluar dari ‘zona aman’ saya saat ini. Saya telah mencoba banyak pekerjaan dari menjadi crew EO/WO sampai menjadi SPG. Memang tidak ada yang bisa mengalahkan rasa kepuasan yang didapat ketika memengang uang hasil keringat sendiri maka dari itu setelah melihat perjuangan kak MR, saya merasa perjuangan saya belum ada apa-apanya.

 

Oleh karena itu, saya sangat ingin belajar banyak dari kak MR. Cita-cita saya dari dulu adalah ingin membawa Papa dan Mama saya pergi ke Vienna. Iya, dari kecil saya selalu mendengar celotehan Papa kalau dia sangat mengagumi kota Vienna (ibukota negara Austria), sampai-sampai saya diberi nama Vienna. Dan saya tahu kepergian kesana bukanlah hal yang mudah, saya masih punya 2 adik lagi (19th dan 15th). Dengan karakter Papa dan Mama yang sangat mementingkan anaknya, akan sangat mustahil menurut saya jika mereka memakai uang mereka untuk berjalan-jalan sedangkan masih ada 3 anak tanggungan.

 

Karena itu saya benar-benar ingin merasakan sebuah ketidak khawatiran akan maslah finansial agar saya bisa membuat keluarga dan orang tua saya bangga. Dan yang terpenting bisa membawa Papa dan Mama mencicipi manisnya kota Vienna dari hasil jerih payah saya sendiri. Karena itu saya sungguh menanti kesempatan bisa dilatih langsung oleh kak MR dan meraih kesuksesan seperti yang telah diraih oleh kak MR serta menjadi kebanggaan orang tua.


You may also like :




  • About Merry Riana

Post a comment

Post a comment to Aku dan Merry Riana by Vienna Chandra

To reply to this message, enter your reply in the box labeled "Message", hit "Post Message."

TV
Aku & Merry Riana – by Andriani
Radio
Master TMRS - 2015 - side bar 300x340px
News & Article
  • WhatsApp Image 2017-01-18 at 13.54.01

    Lowongan Kerja TRAINER

    Hallo, Saya Mariani, Executive HR Officer di MRI (PT Merry Riana Indonesia). Salah satu cara untuk membangun generasi yang lebih [ + ]