Article
Aug 10

Memetik Mimpi Dari Musik Jazz

Posted at 04.32 PM | No Comments | POST A COMMENT

Setelah berbagai praktisi sukses diundang ke The Merry Riana Show, episode kali ini Merry Riana kembali mendatangkan musisi Indonesia. Dan untuk pertama kalinya, Merry Riana mengundang musisi Jazz, Barry Likumahuwa.

 

Anak dari legendaris musik jazz Indonesia, Benny Likumahuwa ini memang sudah cinta mati dengan musik Jazz sejak kecil. Bagaimana tidak, saat kecil, setiap pagi Barry selalu dibangunkan dengan alarm yang bunyinya lagu ‘Technopop’ karya Bob Mintzer! Bunyi itu membuat musik Jazz menjadi tambatan hati Barry sampai saat ini.

 

Pada usia 4 tahun, Barry mulai memainkan terompet dan sekitar usia 11 tahun, ia beralih menjadi bassis setelah terinspirasi oleh Jaco Pastorius, musikus jazz berkebangsaan Amerika Serikat.

 

Sebagian orang mungkin bangga menjadi anak maestro. Apalagi bisa menyandang nama besar Likumahuwa yang sudah tidak usah diragukan lagi kemampuan bermusiknya. Tapi tidak untuk Pria berkulit sawo matang ini. Sebaliknya, Barry justru mengaku sempat terbebani dengan nama besar Likumahuwa. “Saya kepinginnya mereka respect sama saya, karena saya bisa main. Ucap Barry yang sempat mengganti nama belakangnya menjadi Likoe.

 

Suatu hari, Barry kepergok sang ayah. Ia ketahuan mengganti nama belakangnya. “Waktu ayah saya datang ke suatu acara, di buku acara, nama saya ditulis Barry Likoe. Dia agak sedih.” Melihat reaksi kecewa sang Ayah, Barry pun memutuskan kembali memakai nama Likumahuwa.

 

“Begitu bedanya kah perlakuan orang-orang begitu mendengar nama Likumahuwa?” tanya Merry. “Otomatis beda.” jawab Barry.

 

Kendati demikian, Barry tak patah arang. Pelan pelan ia mulai membuktikan eksistensinya dalam berkarya dan mematahkan pendapat orang tentang nebeng nama besar dari sang ayah (Barry Likumahuwa) dan sang paman (Utha Likumahuwa). Menurut Barry, main musik itu datang dari kemampuan manusiannya bukan dari siapa orangtuanya.

 

Meski lahir dari sang legendaris Jazz, Barry mengaku tidak pernah mendapatkan pelatihan khusus dari sang ayah. Semuanya ia belajar secara otodidak. Sang ayah ingin Barry mengejar apa yang benar-benar ia inginkan, bukan memaksanya untuk meneruskan jejaknya sebagai musisi Jazz. Namun, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Bukan suatu kebetulan, Barry memang sudah kepincut dengan Jazz.

 

Dilanjutkan kisahnya kepada Merry. Setelah lulus kuliah, Barry bercerita rajin menggelar pertunjukan. Hingga pada satu pertunjukan tahun 2003, Barry dipertemukan dengan Glenn Fredly dan digandeng menjadi personil tetap di band pengiring Glenn Fredly. Ditahun yang sama, Barry juga terpilih sebagai Best bassist pada Asian Beat Festival.

Musik memberikan hidup jadi berwarna. Demikian juga bagi orang yang menjadikannya sebuah profesi. Sebelum menjadi setenar seperti sekarang ini, ternyata Barry harus merasakan perjuangan dari bawah. Barry yang dulu sempat bertekad hidup sepenuhnya dari musik, pernah merasakan tidak mendapat job sama sekali.

Yang paling pahit, ia pernah merasakan ditinggal oleh ratusan penonton begitu saja saat lagi manggung. “Mereka kompak balik badan dan ninggalin kita.” Curhat Barry kepada Merry, mengenang kembali kejadian yang ia alami tahun 2000, di Kemayoran.

Berbeda dengan fenomena sekarang, yang mendadak Jazz. Kala itu, orang Indonesia memang belum terbiasa dengan musik Jazz instrumental. Hanya dalam waktu 2 menit saja, kumpulan penonton yang memadati pinggir panggung, bubar seketika.

Sebagai manusia normal, Barry pun mengaku sempat kecewa dan berpikir ragu, apakah musiknya akan bisa terus lekang? Namun Barry tetap optimis, apapun yang dilakukan dengan passion hambatan tidak akan mengkandaskan semangatnya untuk mencapai tujuan dan cita-citanya. Ia sangat menikmati perjalanannya merintis karir. Meski memulai dari panggung kecil dan kadang hanya diupah dengan air mineral saja, Barry kini telah menuai jerih payahnya.

“Respon sekarang lebih penting daripada yang dulu.” Ucap Barry.

Barry ternyata adalah sosok orang yang gak bisa diam.” Seru Merry. Barry pun membenarkan. Ia selalu tergoda untuk membuat hal yang baru yang belum terpikirkan orang-orang. Beberapa perwujudannya adalah album kompilasi yang berfokus di R&B, rekam jejak musisi-musisi jazz senior Indonesia, sampai ke kolaborasi lantunan jazz dengan dangdut, melalui lagu berjudul : Unity.

 

Dan pada bulan November 2006, Barry membentuk BLP (Barry Likumahuwa Project) yang merupakan idealisme dari Barry Likumahuwa. Kini, Barry bukan hanya dikenal sebagai musisi Jazz berbakat di Indonesia, tapi juga telah menjadi composer dan producer musik Indonesia.

 

“Pernah gak kepikir mau pindah genre?” Dengan cepat, Barry langsung menjawab pertanyaan Merry tersebut, “agak sulit buat lari dari situ..” Barry yang sejak dalam kandungan sang bunda selalu diperdengarkan dengan nada-nada Jazz mengaku tak bisa manggantikan musik Jazz dengan musik lain. Dulu, Barry pernah mencoba memainkan musik Punk, tapi alhasil nada yang ia mainkan kembali lagi ke nada Jazz.

 

Sudah bertahun-tahun Barry berkecimpung di musik Jazz secara profesional. Sang ayah yang awalnya ragu dengan kemampuan Barry, justru kini tak ingin diiringi oleh pemain Bass yang lain, selain Barry.

 

Suka duka pun mengiringi perjalanan karir Barry. Dukanya, dengan berat hati ia katakan bahwa tantangan terberat dalam meniti karir sebagai musisi Jazz adalah sering di pandang sebelah mata oleh masyarakat, ekspos yang gak terlalu banyak dan yang paling parah kalau musiknya di bajak orang-orang. Sedangkan, sukanya Barry mengakui sangat menikmati hidupnya yang bisa berkarya melalui hal yang ia suka, yaitu musik Jazz. Selain itu, ia juga sangat antusias sekali jika harus manggung dari kota ke kota, karena bisa traveling gratis keliling Indonesia. Diam-diam Barry memang cinta sekali dengan keindahan Indonesia. Sayangnya, menurut Barry tidak semua orang menyadarinya. Sebagai bagian dari bangsa yang besar, Barry bermimpi agar kelak melihat Indonesia sebagai satu kesatuan yang utuh.

 

 

Live Your Best Live for Indonesia.

 


You may also like :




  • About Merry Riana

Post a comment

Post a comment to Memetik Mimpi Dari Musik Jazz

To reply to this message, enter your reply in the box labeled "Message", hit "Post Message."

TV
Aku & Merry Riana – by Andriani
Radio
Master TMRS - 2015 - side bar 300x340px
News & Article