Article
Dec 26

MRCA My Inspiration – Intelektual Muda di Panggung Politik

Posted at 10.12 AM | No Comments | POST A COMMENT

My Inspiration

Intelektual Muda di Panggung Politik

 

Anies Baswedan, seorang pemuda Indonesia yang menginisiasi gerakan Indonesia Mengajar, yang juga pada usia 38 tahun menjadi rektor termuda di perguruan tinggi di Indonesia, merupakan salah satu negarawan Indonesia yang disegani. Ia menjadi salah satu tokoh besar “100 Intelektual Publik Dunia” versi majalah Foreign Policy dan juga bergabung dalam Tim 8 KPK, serta menjabat sebagai Ketua Komite Etik KPK pada tahun 2013. Prestasi, kontribusi, dan tekadnya yang sangat membanggakan ini mengantarkan dirinya menjadi Calon Presiden 2014 dari konvensi Partai Demokrat. Saat ini, beliau bertugas sebagai Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia masa jabatan 2014-2019 dibawah kepemimpian presiden Joko Widodo.

Sebagai seorang pemudi Indonesia, saya Irene Ariani dengan bangga menjadikan beliau sebagai sosok nasionalis yang sangat inspiratif khususnya bagi para kaum muda. Senin, 16 April 2014 lalu merupakan hari yang bersejarah bagi saya. Sungguh sebuah kehormatan untuk berjabat tangan dan bercengkrama langsung dengan Anies Baswedan. Pertemuan dan perbincangan saya dengan beliau menjadikan hari itu sebagai hari pembelajaran yang esensial, terutama mengenai inspirasi pemuda, kesuksesan, dan pribadi nasionalis beliau. Ya, sebagai seorang pemuda, saya ingin belajar banyak hal dari tokoh yang saya teladani.

Sejatinya seorang pemuda takkan pernah lepas dari obrolan mengenai identitas diri, kuliah, karir, organisasi, cinta, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan politik? Apakah politik merupakan hal yang asing bagi pemuda di Indonesia? Prihatinnya, mayoritas pemuda enggan turun tangan dalam ranah politik karena politik dianggap kotor. Akibatnya, setelah selesai kuliah para pemuda lebih memilih untuk tidak terjun ke politik karena adanya stigma negatif tersebut. Berdasarkan latar belakang ini, Anies memberi tanggapan dengan cara bertanya kepada saya yang masih berstatus sebagai seorang mahasiswa, “Nanti selesai kuliah mau kemana?” kemudian saya menjawab, “Mungkin bisnis, Pak”. Ia pun bertanya kembali, “Kenapa bisnis? Gak mau politik?”, saya berkata, “Nggak dulu Pak, rasa-rasanya politik itu kotor“. Lalu ia bertanya, “Memangnya bisnis itu bersih ya?”. Saya pun hanya menjawab dengan sebuah senyuman. Ia menambahkan bahwa bersih atau kotor adalah bagaimana cara kita menjalaninya, bukan soal sektor, sektor manapun bisa bersih dan kotor, tetapi bagaimana menjalankannya itu menunjukkan integritas yang kita miliki. Hal tersebut merupakan perspektif yang penting terutama dalam politik karena politik merupakan salah satu cara untuk membangun negara. Jangan karena politik biasa dianggap kotor, kita menjadi tidak peduli atau apatis dengan politik. Justru karena itu, pemuda-pemudi baru harus mulai bermunculan, mengambil alih, berkontribusi dengan kredibilitas, dan melangkah dengan jiwa kepemimpinan yang bertanggung jawab.

Menurut Anies, seorang pemuda yang ingin berpolitik tentunya harus memiliki modal sebagai berikut: (1) Ide atau gagasan. Calon pemimpin harus tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat perubahan. (2) Bangun jaringan. Ide yang kita punya bisa direalisasikan dengan membangun kerjasama dengan orang lain. (3) Organisasi. Kita dapat merealisasikan ide tersebut bersama rekan-rekan kita secara lebih terstruktur untuk menuju tujuan yang lebih jelas. (4) Dukungan rupiah. Dalam merealisasikan ide akan butuh modal salah satunya adalah uang. Lebih dari pada itu semua, Anies percaya bahwa anak muda dapat melakukan perubahan, khususnya dalam bidang politik. “Anak muda memang minim pengalaman. Ia tak menawarkan masa lalu, ia menawarkan masa depan”, begitu tuturnya.

Para kaum muda memiliki tanggung jawab untuk ambil bagian dalam ‘pilihan sejarah’, yang mana harus membuat perubahan dan sekaligus akan membentuk sejarah baru melalui kebijakan atau keputusannya. Disamping itu, kita para pemuda adalah pemimpin baru yang akan mengambil keputusan berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan pribadi dan golongan, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, serta idealisme dan intuisi. Ya, pemimpin muda seperti kita harus berani membuat keputusan dan pilihan sejarah. Mengutip kata Albert Einstein, “What is right is not always popular and what is popular is not always right“. Dalam mengambil keputusan, sebagai pemimpin yang berintelektual, kita kaum muda harus berani asertif dan mengambil keputusan yang tepat. Bukan karena kita ingin populer, namun karena tidak ada satupun kebijakan yang bisa menyenangkan semua orang. Well, you can’t please everyone. Dalam hal ini, Anies juga menganalogikannya dengan badut, “Yang dapat menyenangkan orang hanyalah badut, bahkan badut sendiri pun ada yang enggak suka!”. Jadi, seorang pemimpin tidak cukup hanya sekadar jujur dan berakhlak baik saja, namun harus memiliki integritas dalam melaksanakan tugas dengan seharusnya, serta bisa mempertanggung jawabkan keputusan-keputusannya.

“Kunci memajukan Indonesia ada pada manusianya, kualitas manusia”, kata Anies. Sebagai pemuda, kita diberi hak untuk memegang kunci tersebut dan bertanggung jawab untuk melunasi janji kemerdekaan. Sudah layak dan sepantasnya kita mengetahui tujuan kita bernegara. “Jika boleh meminjam pemikiran psikolog Erich Fromm, kita memiliki banyak anak muda yang enggan terperangkap modus to have, melainkan modus to be dalam menjalani hidup”, tuturnya. Anies berharap bahwa para anak muda dapat memaksimalkan potensinya dan memiliki kompetensi kelas dunia serta menjadi pemimpin-pemimpin masa depan. Lebih jauh lagi, Anies juga menyampaikan kepada seluruh pemuda dan pemudi Indonesia untuk terus menjaga stamina dan kesehatan agar dapat memproyeksikan peran dengan sungguh-sungguh. Ia juga mengajak kita untuk berbagi tugas dalam mendidik, baik ke sekolah-sekolah, ataupun PAUD. Secara konstitusional, mendidik adalah tugas negara, tetapi secara moral, mendidik adalah tugas setiap orang terdidik. Mengetahui hal ini membuat saya tergugah dan ingin berbuat banyak untuk negara Indonesia dimulai dengan melaksanakan satu tugas utama saya sebagai seorang mahasiswa yaitu belajar keras.

Menanggapi hal tersebut, Anies secara khusus berpesan kepada pemuda pemudi Indonesia untuk memiliki integritas dan dedikasi yang tinggi, cinta perdamaian, peka terhadap segala sesuatu yang terjadi di negeri ini dan peduli terhadap masalah-masalah yang terjadi saat ini, bukan hanya diam dan membiarkannya begitu saja. Setelah memberikan nasihat, ia menanyakan kepada saya sebuah pertanyaan yang merupakan pertanyaan introspektif, pertanyaan yang membuat saya berpikir dan mengevaluasi diri saya sendiri yang selama 21 tahun ini telah lahir, hidup, dan menghabiskan seluruh waktu saya di Indonesia. Adapun pertanyaan ini juga akan saya tanyakan kepada para pemuda pemudi sekalian agar kita dapat bersama-sama merenungkan dan memaknainya. Inilah pertanyaan dari Anies Baswedan untuk kita semua, “What have you done for Indonesia?”

Berbagi inspirasi mengenai pembelajaran hidup yang saya dapatkan melalui Anies Baswedan merupakan hal konkrit yang bisa saya lakukan untuk mengajak setiap pemuda agar mau menjadi agen perubahan bagi tanah air tercinta. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjadi penggerak dan mengambil peran masing-masing dalam perubahan Indonesia. “Yang muda yang berkarya!”. Merdeka!


You may also like :




  • About Merry Riana

Post a comment

Post a comment to MRCA My Inspiration – Intelektual Muda di Panggung Politik

To reply to this message, enter your reply in the box labeled "Message", hit "Post Message."

TV
Aku & Merry Riana – by Andriani
Radio
Master TMRS - 2015 - side bar 300x340px
News & Article