Article
Jan 13

Dari Judo ke Hollywood

Posted at 11.35 AM | No Comments | POST A COMMENT

Dari Judo ke Hollywood

 

Teater layar lebar menjadi alternatif hiburan yang paling banyak dipilih orang-orang untuk menghabiskan akhir pekan mereka. Beruntung, bukan hanya film-film Indonesia saja yang mengalami kemajuan, aktor dan aktris Indonesia pun banyak yang sudah mulai melebarkan sayapnya ke kancah internasional. Salah satunya adalah Johannes Taslim atau akrab disapa Joe Taslim. Pria bertubuh tinggi tegap ini adalah mantan atlet Judo yang kemudian menjadi buah bibir di kalangan pecinta film Indonesia, setelah keterlibatannya dalam film hollywood, berjudul Fast & Furious 6.

Sinar mentari yang hangat semakin meninggi cerah dengan kehadiran Joe Taslim di studio Sonora. Joe pun mulai mengangkat kisah panjangnya kepada Merry. Berawal dari keinginan sang orangtua yang ingin melihat Joe besar sebagai olahragawan, Joe menjadi atlet Judo profesional di tahun 1997. Tidak hanya sekedar mencintai Judo, ia menekuninya sampai berhasil mengantongi 30 keping medali dari pertandingan Judo. Diantaranya adalah medali perak SEA Games Thailand 2007 dan juara Pekan Olahraga Nasional (PON) di Samarinda tahun 2008.

Saat krisis moneter melanda, Joe yang saat itu berada di Jakarta untuk Pelatnas mencoba keberuntungannya dengan mengikuti audisi dan casting. Iseng-iseng berhadiah. Percobaannya berbuah manis. Penyuka Stevie Wonder ini, mendapatkan job sebagai model pemotretan, model iklan hingga akhirnya menjadi aktor di film Karma setelah mengikuti casting selama 4 tahun.

Jika ditanya apa modal Joe Taslim untuk sukses?

Konsisten lah, jawabannya. Menurutnya, perlu bagi seseorang untuk menentukan satu pilihan yang ingin digeluti. Jika semua ingin dicoba, maka mereka tidak akan menjadi yang terbaik di semuanya. Ia percaya ketika seseorang fokus, semua akan berjalan lebih berhasil.

Kepada Joe, Merry berujar bahwa ia percaya didunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Yang ada adalah kesempatan kecil, awal dari sebuah kesempatan besar. Berawal dari kecintaannya di seni bela diri, Joe menapaki langkahnya menuju pintu kesempatan. Berbekal ilmu sebagai atlit Judo, Joe dipercayakan untuk memerankan sebuah film laga, berjudul ‘The Raid’.

Efek film ini ternyata sangatlah besar. Keberhasilannya di film The Raid ibarat kunci yang membuka semuanya. Joe mendapatkan kesempatan untuk mencicipi film hollywood lewat film Fast and Furious 6.

Joe merasa beruntung, pengalamannya di masa lalu telah membuatnya pada posisi sekarang ini. Seperti mimpi yang jadi kenyataan. Beradu akting bersama Dwayne Johnson, Vin Diesel, Luke Evans dan Michelle Rodriguez ternyata sangat menyenangkan bagi Joe. Tak ada perbedaan kasta antara aktor Asia dengan aktor Hollywood dan tak perlu banyak adaptasi, karena para pemain senior itu sudah tau kualitas akting Joe melalui film The Raid.

Joe sebagai aktor satu-satunya asal Indonesia tak menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Dengan penuh perjuangan, ia berhasil meyakinkan sutradara untuk menyelipkan kata “Hantam!” yang merupakan bahasa Indonesia.

Menjadi orang Indonesia yang muncul dalam opening title film Internasional adalah satu keuntungan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ia bersyukur, mendapatkan penambahan peran sebanyak 30% dari script.

Dari sekian adegan yang punya kenangan tersendiri, Joe mengaku ada satu adegan yang paling mendebarkan dalam film Fast & Furious. Adegan dimana ia harus terlibat dalam perkelahian dengan 2 jagoan utama sekaligus. Selain hanya diberi waktu 8 jam untuk menguasai gerakan, Joe juga dituntut bisa memecahkan kaca dengan sukses dalam satu kali shoot. Dan adegan itu pun ditampilkan oleh Joe dengan sangat rapih.

“Bagaimana sih cara menumbuhkan rasa semangat hidup seseorang yang telah gagal?” tanya Merry mulai membacakan pertanyaan dari Friends Sonora.

Joe sudah kebal dengan kegagalan. Baginya kegagalan adalah sekolah, tempat ia belajar sesuatu. Jika saja dulu ia menyerah saat lebih dari puluhan kali gagal lolos audisi, mungkin Joe tidak akan menjadi apa-apa sampai sekarang ini. Kegagalan bukan sesuatu yang harus dtakuti, tapi kegagalan membuat seseorang menjadi matang. “Gagal itu kalau berhenti.” Kata Joe.

Joe percaya, tidak ada yang tak mungkin. “If you’re being a good human being, kita selalu memilih sesuatu yang benar.” kata Joe mengungkapkan kunci rahasia keberhasilannya.

Sejutu dengan Joe, Merry pun menutup pembicaraan hari itu dengan sebuah pendapat. Menurut Merry, sebelum berharap sesuatu yang besar alangkah baiknya bila seseorang memantaskan diri mereka sendiri terlebih dahulu. Karena dalam hidup, ada hal yang datang dengan sendirinya, dan ada hal yang harus diperjuangkan dahulu untuk mendapatkannya.

 

Live Your Best Life for Indonesia!

 


You may also like :




  • About Merry Riana

Post a comment

Post a comment to Dari Judo ke Hollywood

To reply to this message, enter your reply in the box labeled "Message", hit "Post Message."

TV
Aku & Merry Riana – by Andriani
Radio
News & Article