Article
May 03

“From Leukimia To Olimpic Beijing Medal”

Posted at 01.57 PM | No Comments | POST A COMMENT

From Leukimia To Olimpic Beijing Medal

Siapapun, tentu tak ada yang ingin mengidap salah satu penyakit mematikan didunia, seperti kanker. Begitupun dengan Maarten van der Weijden. Pria asal Belanda yang harus merelakan karirnya sebagai atlet renang setelah di vonis mengidap kanker leukemia.

Di akhir penghujung tahun 2013, Maarten ditugaskan ke Indonesia untuk urusan pekerjaan. Selama di Indonesia, Maarten bercerita kepada Merry kalau ia sudah menjelajahi Indonesia, mulai dari kota Ambon, Makasar, Kupang, Lombok, bahkan sempat mendaki gunung Rinjani. Dari perjalanan dinasnya yang sangat padat itu, Maarten bersama istri tercinta menyempatkan waktu untuk memenuhi undangan Merry Riana sebagai bintang tamu di The Merry Riana Show.

Seperti atlet renang pada umumnya, perawakannya Maarten sangat tinggi mencapai 2 meter. Wajar saja, sejak usia 7 tahun ia sudah terekspos dengan berbagai olahraga, seperti : volley, ice skating, aikido dan renang.

Ketertarikan Maarten pada bidang olahraga terinspirasi oleh sang ayah. Sang ayah percaya dengan menekuni bidang olahraga, disitulah Maarten akan bisa menekuni hal-hal positif dalam hidup ini.

Bagaimana dari hobby bisa menjadi seorang profesional? Hal itupun mengundang keingintahuan Merry kepada Maarten. “The good things, if you really likes your hobby then you start to doing more.” Jawab Maarten atas pertanyaan Merry.

Berawal dari hobby, Maarten menjadikan olahraga renang sebagai pekerjaan full time. Dengan tekun dan disiplin, ia memenangkan banyak perlombaan. Bahkan medali pertamanya, ia raih saat usia 8 tahun. Tak disangka, ketika kuliah Maarten justru mengambil jurusan matematika. Sebuah jurusan yang tidak ada hubungannya dengan olahraga renang.

Bagaimana jurusan matematika membantunya di olahraga renang?

Tak ada yang sia-sia. Begitupula dengan pelajaran matematika yang Maarten pelajari dulu. Ilmu matematika membantu Maarten untuk berpikir secara logika dan mengatur strategi. Maarten juga menjelaskan, berenang dengan peserta yang banyak memungkinkan dirinya untuk melakukan slipstream atau teknik berenang lebih cepat dengan memanfaatkan arus dari lawan yang ada didepan.

Adalah open water swimming, pertandingan terakhir yang Maarten ikuti. Pertandingan ini biasa dilakukan di danau dengan jarak tempuh yang cukup panjang tanpa jalur pembatas antara peserta yang satu dengan peserta lainnya.

Hidup memang tidak dapat diprediksi. Tahun 2001, Maarten yang kesehariannya menjalani pola hidup sehat di vonis mengidap penyakit paling mematikan di dunia. Kejadiannya cukup cepat. Awalnya Maarten hanya jatuh sakit dan tak kunjung sembuh. Setelah ke dokter, diketahui ia mengidap leukimia bahkan diprediksi hanya bisa hidup selama 5 minggu. Bagai disambar petir. Mungkin itulah ungkapan dan perasaan yang tepat baginya.

“It’s so bad.” Kata Maarten kepada Merry, ketika ditanya perasaannya. Ia dipaksa berhenti berenang untuk menjalani perawatan dan kemoterapi. Mimpinya untuk mencapai banyak hal, harus dikubur dalam-dalam. Di usiannya yang masih produktif, ia harus terbaring berbulan-bulan di rumah sakit. Meski orang-orang di sekelilingnya tak pernah putus memberikan semangat kepadanya, Maarten mengaku bahwa hal yang membuatnya bisa bangkit adalah dengan belajar menerimanya.

Proses penyembuhannya cukup lama dan butuh kesabaran. Setelah mendekam selama enam bulan di rumah sakit dan menjalani dua tahun pengobatan untuk berjuang sembuh dari penyakit yang mematikan itu, Maarten dinyatakan sembuh. Meski tubuhnya harus kembali beradaptasi untuk bisa beraktifitas normal.

2 minggu setelah keluar dari rumah sakit, Maarten kembali berenang bahkan ia mendaftarkan diri sebagai peserta Olimpiade Open Water Swimming di Beijing. Walau sudah sering mengikuti perlombaan sebelumnya, Maarten harus latihan lagi dari awal untuk membiasakan tubuhnya dalam aktifitas yang sempat ia tinggali selama beberapa tahun.

Maarten berhasil merengkuh medali emas di Olimpiade Beijing dari renang maraton luar ruangan dengan jarak tempuh 10 km selama 2 jam. Dan ditahun yang sama, Maarten mengumumkan keputusannya untuk pensiun sebagai perenang profesional.

Kisah Maarten memberikan pesan yang cukup dalam bagi semua orang. Ia membuktikan bahwa penderita leukimia bisa sembuh total dan bisa meraih medali emas di Beijing. Cerita hidupnya yang telah banyak menginspirasi orang ditulis melalui buku berjudul ‘Maarten Van Der Weijden Beter’. Ia juga berbagi melalui aktifitas barunya sebagai public speaker diberbagai seminar.

Decak kagum mengalir dari hati Merry. Beberapa tahun yang lalu, Maarten adalah seorang pria yang hampir tak punya harapan untuk hidup. Tapi leukemia justru mengajarkannya untuk berpikir selangkah demi selangkah dan belajar menjadi lebih sabar.

 

Live Your Best Life for Indonesia!


You may also like :




  • About Merry Riana

Post a comment

Post a comment to “From Leukimia To Olimpic Beijing Medal”

To reply to this message, enter your reply in the box labeled "Message", hit "Post Message."

TV
Aku & Merry Riana – by Andriani
Radio
News & Article