Article
Jun 18

Man Jadda Wa Jadda – Ahmad Fuadi

Posted at 10.26 AM | No Comments | POST A COMMENT

Man Jadda Wa Jadda. Pepatah yang terkenal dari dunia pesantren yang artinya Siapa yang bersungguh-sungguh, dia yang akan berhasil. Pasti Anda bertanya-tanya soal tema ini. Mungkin beberapa dari Anda merasa familiar, tapi mungkin beberapa dari Anda merasa sama sekali baru dengan pepatah ini. Pada The Merry Riana Show hari itu, bintang tamu Merry sendiri lah yang akan menjelaskan dan menunjukkan kekuatan dari pepatah itu. Dia adalah dari seorang anak dari kampung di pinggir Danau Maninjau di Sumatera Barat yang kemudian bersekolah ke Pulau Jawa, mengarungi sulitnya kehidupan bersama mimpi-mimpinya yang setinggi langit hingga menghantarkan dia pada 8 beasiswa dari luar negeri dan sempat bekerja di Amerika.

 

Ahmad Fuadi. Sosok pria muda duduk di hadapan Merry saat itu, dengan perawakannya yang sederhana. Dialah yang telah menyerukan semangat Man Jadda Wa Jadda lewat buku yang diterbitkannya di tahun 2009, “Negeri 5 Menara”. Buku ini mungkin bukanlah judul yang asing lagi di telinga Anda semua karena diangkat menjadi Film di Indonesia.

 

Penampilannya yang sederhana seakan melukiskan sosok anak kecil dari pinggiran Danau Maninjau yang belum berubah sama sekali. Fuadi mengawali ceritanya kepada Merry, dengan mendiskripsikan kampung halaman yang sedang dirindukannya. Kampung yang menurutnya adalah salah satu tempat terindah di dunia. Kampung yang pemadangan depannya adalah danau yang biru, seperti cermin yang membuat refleksi awan seakan terlukis di dalamnya. Kampung yang dibelakangnya terhampar iring-iringan gunung yang begitu subur dan cantik. Kampung yang tampak seperti sebuah cerukan karena berasal dari kawah gunung purba yang kemudian meledak sehingga bisa ditinggali kini. Kampung yang sangat indah, sekali lagi ia tegaskan. Membuatnya selalu ingin pulang tak peduli ia harus melewati jalanan menurun dengan 44 kali belokan untuk mencapai tempat tersebut. Kelok 44. Nama tempat kampungnya.

 

Fuadi lahir dari keluarga guru. Ia merasa beruntung walaupun tinggal di kampung, karena orang tuanya selalu menyediakan buku untuk dibaca. Sang Ibu, yang selalu ia panggil Amak, pun memang suka menulis dan mungkin kebiasaan inilah yang akhirnya menurun dan melahirkan seorang penulis, Ahmad Fuadi.

 

Di tengah cita-citanya yang tinggi dan keinginannya untuk belajar di Sekolah Menengah Atas, sang Amak justru memintanya untuk menjalani pendidikan di pesantren. Menurut sang Ibunda, pesantren akan menyiapkan Fuadi lebih matang lagi sebelum mengenyam pendidikan yang jauh lebih tinggi. Walaupun sempat merasa marah dan enggan, namun dengan setengah hati akhirnya Fuadi mengikuti keinginan sang Ibu.

 

Perkiraannya yang membuat ia enggan ke pesantren sebelumnya, akhirnya dipatahkan oleh kenyataan di depan mata. Ternyata Pesantren jauh dari apa yang ia bayangkan. Pesantren bukan hanya sekedar mengajarkannya soal agama, tapi mengajarkannya tentang kehidupan. Pola pikirnya telah jauh berubah dan ia merasa sangat bersyukur. Buatnya pendidikan di pesantren itu adalah pendidikan yang sangat inspiratif yang tak akan pernah terlupakan, yang pada akhirnya dituliskannya ke dalam negeri 5 Menara.

 

Pendidikan selama empat tahun di pesantren itu pulalah yang telah mengajarkan dan menanamkan di alam bawah sadarnya mengenai pepatah Man Jadda Wa Jadda. Pepatah yang terus berkobar hingga kini. Pepatah yang selalu dipegang teguh olehnya. Bahwa siapa yang bersungguh-sungguh, dia lah yang akan beruntung.

 

Negeri 5 Menara lahir dari luapan hati dan ceritanya di dalam pesantren. Dikumpulkan dari diary diary lama sebagai bahan baku utama ditambah oleh surat-surat yang selalu ia kirimkan kepada sang Ibu di kampung. Negeri 5 Menara lahir menjadi sebuah buku indah mengenai perjalanan hidupnya dan nilai-nilai yang didapatkannya disana.

 

Semangat dan mimpi Fuadi pernah hampir terpatahkan. Tepatnya saat kuliah, semester 1, ketika Ayahnya harus berpulang ke sisi Yang Maha Kuasa. Ahmad Fuadi mengalami titik terendah dalam hidupnya. Ia merasa tidak berdaya dan tidak punya apa-apa.

 

Pilihannya saat itu hanya dua. Menyerah atau terus. Ia terus memeluk mimpi-mimpinya. Tidak, ia tidak mau menyerah. Suatu hari, salah seorang seniornya datang untuk mengajaknya menulis. Inilah cikal bakal Ahmad Fuadi mulai belajar menulis. Berkali kali ia gagal saat belajar, sampai akhirnya ia berhasil dan memasukkannya ke koran. Dari situlah hidupnya bisa tertopang. Kerja keras dan kesungguh-sungguhannya mulai terbayar.

 

Mimpi Fuadi setinggi langit dan sejauh kitaran dunia. Ia ingin sekali belajar di luar negeri namun ia sadar ia punya uang untuk itu. Saat itulah ia mulai mengenalkan diri pada apa yang namanya beasiswa. Ia kembali meneguhkan dirinya, menyuguhkan kerja keras pada Tuhan, untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Berhasil. Ia mendapatkan kesempatan belajar selama satu setengah tahun di Singapura.

 

Tahun-tahun berlalu, buku Negeri 5 Menara masuk ke dalam toko-toko buku Indonesia, masuk mengalir ke pikiran para pembaca. Membawa Ahmad Fuadi menjadi Penulis dan Fiksi terfavorit dari Anugerah Pembaca Indonesia 2010 dan penulis terbaik dari Perpustakaan Nasional Indonesia 2010. Mendapat penghargaan juga dari SCTV Awards untuk kategori pendidikan dan motivasi 2011 serta meraih Long List Khatulistiwa Literary Award 2010. Memang, orang yang bersungguh-sungguh, dialah yang beruntung.

 

Bagi seorang Ahmad Fuadi, beasiswa adalah kesempatan keluar negeri untuk belajar. Jadi tidak harus untuk mengejar S1 atau S2. Yang penting baginya adalah bisa belajar sebanyak-banyaknya sejauh-jauh mungkin. Inilah yang membawanya hingga mendapatkan delapan beasiswa dari luar negeri. Ke Kanada, Singapura, Amerika, hingga Inggris. Dan terakhir di Italy ia mendapat beasiswa menulis selama sebulan. Menurut Ahmad Fuadi, beasiswa itu banyak, tapi lebih banyak lagi orang yang hanya mau beasiswa itu tapi tidak menyertainya dengan usaha. Jadi, berusahalah dan kejarlah. Beasiswa bukan hanya untuk orang pintar saja. Tapi beasiswa itu untuk orang yang berusaha sungguh-sungguh. Katanya, “Percayalah, dari 100 usaha yang kita lakukan, pasti ada 1 yang berhasil.” Baginya, sungguh-sungguh itu artinya jangan menyerah. Kalau sudah bersungguh-sungguh tidak berhasil, maka harus sabar! Itulah yang sering dilupakan manusia. Dan yang terakhir.

 

Siapa yang bersabar dia yang beruntung. Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di ujung.

 

Kini Ahmad Fuadi bersama komunitas Menara telah mendirikan 5 sekolah gratis di Indonesia untuk anak-anak usia 0-6 tahun yang tidak mampu. Ini adalah salah satu cara baginya untuk berbagi.

 

Impiannya tak berhenti disitu. Ia masih menginkan 5 sekolah berkembang menjadi 1000 sekolah. Baginya impian itu tidak boleh kecil dan tidak boleh meremehkannya. Impian harus dibela dan jangan dibiarkan sendiri. Serahkan semuanya ke atas. Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia yang tahu mana yang baik untuk kita.

 

Perbincangan Merry dengan Ahmad Fuadi hari itu mengajarkan banyak hal. Ahmad Fuadi adalah contoh nyata bahwa mereka yang sukses adalah mereka yang berbeda karena teguhnya komitmen yang mereka miliki. Jika Anda ingin mencapai sesuatu, Anda harus siap melakukan semua usaha yang Anda bisa. Anda bisa mencanangkan mimpi setinggi apapun. Bermimpilah dan berharaplah itu jadi kenyataan. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil. Man Jadda Wa Jadda.

 

Live Your Best Life for Indonesia!

Ahmad Fuadi


You may also like :




  • About Merry Riana

Post a comment

Post a comment to Man Jadda Wa Jadda – Ahmad Fuadi

To reply to this message, enter your reply in the box labeled "Message", hit "Post Message."

TV
Aku & Merry Riana – by Andriani
Radio
News & Article