Article
Sep 14

Menu Pinggiran Jadi Bisnis Gedongan

Posted at 04.40 PM | No Comments | POST A COMMENT

Gado-gado. Makanan khas Indonesia yang berisi campuran sayur-sayuran yang telah direbus lalu disiram oleh bumbu kacang tanah yang ditumbuk halus. Makanan ini, menjadi salah satu makanan favorite orang Indonesia. Bukan hanya enak, gado-gado juga bergizi, harga terjangkau dan mudah ditemukan.

 

Pada umumnya, gado-gado bisa dijumpai di pinggir jalan. Tapi gado-gado yang satu ini beda dari yang lain. Disajikan dalam sebuah restaurant besar bergaya modern dan menjadi menu utama. Adalah Gado-gado Boplo, sebuah bisnis kuliner level bergengsi yang saat ini menjadi favorite banyak kalangan artis maupun pejabat.

 

Awalnya, makanan gado-gado ini adalah sebuah bisnis kuliner yang didirikan oleh seorang ibu rumah tangga bernama Juliana Hartono sejak tahun 1970 bersama putra sulungnya, Calvin Hartono.

 

Awalnya hanya dijual dengan harga Rp 25, tapi kini gado-gado Boplo telah memberikan omset milyaran rupiah dan mampu menafkahi 600 karyawan. Kok bisa?

 

Bintang tamu The Merry Riana Show kali ini yang akan mampu menjawab semua pertanyaan tersebut. Ia adalah anak laki-laki yang sejak awal sudah membantu sang ibu merintis gado-gado Boplo, Calvin Hartono.

 

“Sebenernya apa sih yang melatarbelakangi Pak Calvin sampai harus jualan gado-gado?” tanya Merry.

 

Tahun 1970. Selepas meninggalnya sang ayah, sang ibu (Juliana Hartono) menjadi tulang punggung keluarga yang harus membiayai 2 anaknya yang masih kecil-kecil. Dipilihlah usaha yang praktis dengan modal murah. Di sebuah gang sempit, di jalan raya Wahid Hasyim, gado-gado rumahan dijajakan sepanjang hari.

 

Calvin yang saat itu masih berusia 9 tahun, turut membantu upaya sang ibu.

“Dibangunin pagi-pagi untuk bantu mama belanja sayuran.” Kata Calvin mengenang kembali bakti yang sudah ia lakukan sejak kecil.

 

Nama Boplo itu sendiri diadaptasi dari ide sang ibu ketika melihat sebuah papan nama besar bertuliskan ‘Apotek Boplo’ yang cukup menarik perhatiannya.

Ternyata, pilihan nama tersebut membawa rejeki yang besar. Gado-gado Boplo terus membentangkan namanya hingga memiliki 12 cabang.

 

Berjualan gado-gado di usia yang masih belia, membuat Calvin awalnya merasa malu pada teman-teman sekolahnya. Namun ia sadar, gengsi tidak membuatnya jadi sukses. “Awalnya malu tapi cuek aja. Toh yg dilakukan pekerjaan halal. Lama-lama perasaan malu itu hilang sendiri.”

 

Meski menjadi pengusaha rumah makan bukan cita-cita Calvin waktu kecil. Calvin sadar bahwa ia memang harus turun tangan membuat bisnis kuliner sang ibu menjadi besar.

“Seberapa besar usaha kalau ga ada yg lanjutin ya akan tutup sendiri.”

 

Berbagai tantangan dan rintangan pun sudah pernah mereka alami. “Mama pernah down banget. Punya karyawan 1 tapi membawa kabur uang hasil cathering.” Kenang Calvin.

 

Kendati demikian, Calvin selalu meyakini sang ibu untuk terus melangkah dengan optimis, “selama kita masih berusaha, kita pasti dikasih berkat lagi sama Tuhan.”

 

34 tahun, ia bersama sang ibu merintis bisnis ini dengan tekun. Calvin dan sang ibu nekat mengakuisisi sebuah restoran makan yang hampir tutup dan menjual gado-gado sebagai menu utamanya. Berbekal respon positif dari pelanggan dan kepiawaian sang ibu meracik makanan, enaknya Gado-gado Boplo kini terkenal sampai ke kalangan artis maupun pejabat. Pak Jokowi, salah satunya. Menurut penuturan Calvin, seusai blusukan ia kelak mampir ke Gado-gado Boplo untuk mengisi perut.

 

Gado-gado Boplo juga sempat dipercaya untuk menyiapkan konsumsi di acara pelantikan Gubernur DKI, Bpk. Basuki Tjahaja Purnama.

 

Kenapa semua orang berbondong-bondong untuk jauh-jauh datang ke Gado-gado Boplo, apa rahasianya? Campuran kacang mede yang dihaluskan dengan batu ulekan ternyata yang menjadi kunci rahasia suksesnya Gado-gado boplo.

 

Ada pepatah yang mengatakan : semakin tinggi pohon, makan semakin kencang anginnya. Begitu juga dalam menjalankan bisnis, semakin berkembang, pasti ada saja cobaan yang datang.

 

Gado-gado Boplo pernah mendapat cobaan yaitu serangan isu menggunakan minyak babi dalam pembuatan gado-gado. Namun Calvin tidak ambil pusing, ia terus fokus untuk memperbaiki kualitas, cita rasa dan service yang baik.

 

“Hidup sebenarnya juga seperti gado-gado. Ada senangnya, ada susahnya, campur aduk.” Kata Merry menambahkan.

 

Kini Gado-gado Boplo sudah tersertifikasi 100% halal dari MUI. Dan sang ibu yang sudah memasuki umur 70an, masih aktif terjun menangani Gado-gado Boplo.

 

“Apa gak takut resepnya dicuri?” ucap Merry membacakan salah satu pertanyaan dari pendengar bernama Arif di Bekasi.

“Kalau kita takutin kita gak mungkin bisa berkembang.” Tutur Calvin yang pernah menjuarai Lomba Gado-gado Ulek se-Jakarta.

 

“Salah satu cara mengatasi persaingan di dunia kuliner, selalu berinovasi, selalu berikan nilai tambah, rajin ikutan pameran juga untuk memperkenalkan brand kita.” Tambahnya.

 

Apa yang memotivasi Calvin untuk terus fokus dan setia pada Gado-gado Boplo?

Pengusaha muda ini ternyata punya harapan punya harapan agar suatu hari, orang Indonesia akan bangga dengan makanan tradisional dibandingkan makanan luar.

 

 

Live Your Best Live for Indonesia.


You may also like :




  • About Merry Riana

Post a comment

Post a comment to Menu Pinggiran Jadi Bisnis Gedongan

To reply to this message, enter your reply in the box labeled "Message", hit "Post Message."

TV
Aku & Merry Riana – by Andriani
Radio
News & Article